Senin, 14 Juli 2014

Uang Kuliah Tinggi

Sambil ngebuburit kali ini saya akan sedikit berbagi cerita  tentang masalah UKT (Uang Kuliah Tinggi). Tapi singkatan aslinya “Uang Kuliah Tunggal” .
                Baik, singkat cerita saya masuk SNMPTN undangan 2014 dan masuk di prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pendidikan Indonesia. Tetapi status saya pada saat itu masih status gantung, karena untuk fix menjadi seorang MARU ada beberapa persyaratan yang harus saya dipenuhi. Yaitu harus membayar biaya administrasi, menghadiri PengarahanAkademik tanggal 17 Juni dan melakukan Registrasi Akademik 18 Juni.
                Tahapan pertama saya harus membayar biaya atau registrasi administrasi terlebih dahulu, tapi pengumuman biaya yang harus dibayar belum bisa dilihat di website resmi pmb.upi.edu diperkirakan sebelum tanggal 9-13juni akan segera diumumkan.
                Di tanggal 27 Mei setelah pengumuman SNMPTN, saya harus menunggu berhari-hari. Dan beberapa kali orang tua menanyakan biaya masuk yang harus dikeluarkan. Mungkin mereka khawatir dengan biaya registrasi administrasi, ketika mendengar anak tetangga yang 4 tahun lalu kuliah di UPI biaya masuknya nyampe puluhan juta.
Tapi dibalik tanya dan kekhawatiran mereka, saya bertanya dalam hati “Apakah mereka punya uang untuk biaya kuliah saya?” Dan saya sempat tidak cemas akan keadaan yang mereka hadapi, alangkah indah bukan? Ketika mereka mengalami rasa khawatir tapi saya masih senang dan gembiranya masuk Ilmu Komunikasi tanpa jalur tes tertulis. Hahaha konyol bukan? Anak macam apa saya ini? Tapi itulah perasaan saya saat itu.
Disaat proses menunggu pengumuman Registrasi Adiministrasi, saya pun agar tidak ketinggalan info alias biar gak kudet. Maka saya pun memfollow and join di group sosial media (twitter atau facebook). Dan di group Facebook banyak sekali Mahasiswa Baru yang saling berkenalan dan mencari teman yang seProdi.
Nah, suatu hari (Hahaha macam di cerpen ajah) saya pun buka twitter, terus di TL ada info tentang UKT disalah satu akun “@marumaru14” (Akun disamarkan). Setelah ditelusuri dan saya simpulkan ternyata UKT itu, menggantikan sistem lama yang mana kalo tahun 2012 kebelakang itu pas pertama masuk UNIVERSITAS bayarnya belasan atau bahkan PULUHAN juta, tetapi bayaran tiap semesternya ringan, dan menurut tetangga saya katanya tiap semester bayarnya mulai turun secara bertahap (Misalnya dari 5 juta jadi 4 juta) ntahlah saya tidak terlalu mengerti sistem tahun lalu, yang penting tahun lalu itu bayarnya bisa mencapai puluhan juta pas pertama kali masuk kuliah.
Untuk sistem baru ini, dari awal masuk nyampe lulus kuliah bayarnya tetep segitu, misalnya kalo UKT kita 7 juta berarti nyampe lulus kuliah bayarnya 7 juta. Namun, setiap orang akan berbeda UKTnya karna dilihat dari penghasilan/gaji orang tua dan biaya tanggungan keluarga.
Sebenanya sistem UKT sama saja dengan sistem lama.
Tanggal yang saya tunggu-tunggu pun datang, tanggal 8. Pagi itu saya pun mencoba mencek web pmb.upi.edu. Dan ternyata pengumuman UKT pun sudah bisa dilihat dengan memasukan nomor pendaftaran, NISN  dan tangga lahir. 
Lalu hasil UKT saya pun keluar dan Rp. 5.640.000 yang harus orang tua saya bayar setiap semesternya. Saya pun agak shock, dan penasaran dengan UKT teman sekelas yang sekarang sama kuliah di UPI. Kebetulan saya mempunyai data mereka. Dari 10 teman sekelas, hanya 2 orang yang sama mendapatkan UKT 5,64 juta. Dan 7 orang yang lainnya mendaptkan UKT dibawah 5,64 juta.
Padahal ketika pengisian di PMB saya mengisi gaji orang tua 2-4juta tapi ternyata dapatnya 5,64juta. Saking penasaranya, saya langsung chating via fb dengan kakak kelas yang mendahului masuk UPI tahun kemarin.
“ Kak, kalo UKT itu bisa turun?”
“Bisa dengan cara penangguhan, tapi pengurususannya ribet. Dan kemungkinan susah, jarang ditanggapi oleh pihak univ”
 Ok, malamnya saya menjelaskan kalo 5,64 juta itu setiap semester tapi ketika saya melihat raut dan mimik orang tua, mereka agak berbeda. Entah senang atau sebaliknya. Tapi intinya kata Ayah saya selama masih bisa kerja pasti bisa membiayai kuliah saya dan katanya untuk urusan biaya kuliah jangan khawatir karena ada simpanan.
                Besoknya tanggal 9 Juni, saya bersama Mama saya pergi ke Bank untuk membayar Registrasi Administrasi. Dan baru ingat kalo tanggal 9 itu, ulang tahun ayah saya. Saya gak punya kado special buat ayah, tapi malah sebaliknya ayah saya yang ngasih kado. Tapi saya selaku anak pertamanya selalu mendo’akan supaya diberi kesehatan dan rezeki yang melimpah.
                Dan saya pun menunggu lagi untuk pengarahan akademik di Gymnasium dan Registrasi Akademik di BAAK. (Ntar saya paparin cerita ini)
                Loncat ketanggal 18 Juni, akhirnya saya beres proses Registrasi Akademik terus sebelum pulang, saya diajak ke pos Advokasi Ilmu Komunikasi. Disana saya bisa curhat apapun. Di Pos saya gak banyak ngomong Hahaa maklum masih newborn.
                Tapi nyeselnya, setelah tiba di rumah malah kepikirian pengen curhat ke kakak Advokasi masalah UKT, namun untungnya saya dikasih nomor handphone salah satu kakak Advokasi itu.
                Beberapa minggu kemudian di malam hari setelah pulang teraweh, saya pun memberanikan diri untuk sms perihal UKT ke kakak Advokasi.
“Kak, saya merasa keberatan dengan UKT yang saya dapatkan. Apakah ada penurunan UKT?” (Saya lupa lagi ngesms apa, tapi intinya gitu)
Ternyata tidak langsung dibalas dan harus pending.
                Saya masih punya keberanian dan  memberanikan diri, malam itu juga saya menulis Pesan di Fb salah satu kakak advokasi cewek. Dan mudah-mudahan direspon.
“ Kak, kalo pengen UKT turun gimana yah? Karena saya merasa keberatan dengan UKT saya yang tidak sesuai dengan penghasilan orangtua saya. Dan hanya ayah saya yang bekerja mencari nafkah dan membiayai saya kuliah. UKT saya 5,64 juta persemester sedangkan Ayah saya sebulan berpenghasilan 3,2 juta. Dan saya baru tahu, ketika pengarahan di gymnasium tgl 17 juni kemarin, kalo kuliah itu hanya 4 bulan persemester.
Dan jika saya paparkan :
5,64 juta × 2 semester = 11.28 juta
Kost-an / per tahun = 4,5 juta
Total = 15,78 juta / pertahun
Belom ditambah biaya hidup dan beli buku kuliah.
Dan sedangkan, Ayah saya seorang satpam. 3,2 juta (Gaji) × 2 semester ( 8 bulan ) = +_ 25juta ( 2 semester )
Hampir dari sebagian gaji Ayah saya, hanya untuk biaya kuliah saya. Tapi bukan hanya saya yang harus dibiayai tetapi Adik saya yang sekarang duduk di kelas 6 SD bentar lagi masuk SMP. Jujur! Belum lagi biaya kebutuhan hidup keluarga dan biaya kredit yang harus dilunasi ayah saya. Tapi ayah saya pernah bilang "Jangan khawatir masalah uang kuliah mah, masih ada jaminan motor dan Ayah masih bisa nyari nafkah selagi ayah bisa" Namun saat saya mendengar ayah ngomong itu saya merasa kasihan melihat ayah yang harus berjuang mencari nafkah 15juta bahkan lebih tiap tahunnya untuk anak pertamanya.
Waktu SMA ada pendataan yang ingin mengajukan Bidikmisi, saya ikut mencobanya tapi saat itu guru BK bilang ternyata gaji Ayah saya yang 3,2 juta itu tidak bisa menerima Bidikimisi. Tapi saya sadar mungkin ada yang lebih berhak dari saya untuk mendaptkan beasiswa Bidikmisi itu. Saya pusing dan saya gak suka jika saya ada disituasi pertengahan ini, Gak suka kalo ada di situasi transisi , dapet bidikmisi gak bisa dan tapi kalo punya Duit banyak juga gak punya-___- tapi bukannya saya kecewa sama yang Allah berikan, allhamdullilah saya selalu bersyukur. Waktu pengisian data online, saya Jujur mengisi data penghasilan orangtua 2-4 juta karna gak ada option yang 1-3 juta seingat saya. Saya kira PTN itu beda sama PTS untuk masalah pembiayaan administrasi kuliah, tapi nyatanya hampir sama. UKT saya turun 2 juta atau bahkan 1 juta pun syukur alhamdullilah karna dengan demikian bisa meringankan beban orang tua khususnya Ayah saya. Maaf sebelumnya saya tidak bicara langsung ketika di pos Advokasi kemarin dan baru ingat setelah saya tiba dirumah. Jadi saya hanya bisa melontarkan isi hati tentang masalah UKT lewat pesan ini. ” Dan ternyata belom ada balasan Hahaa tapi no matter :) 
Kalau pun UKT saya gak bisa turun dan mentok di 5,64 juta, saya berjanji pada diri saya sendiri
 “ Saya mesti dapat beasiswa pas kuliah nanti dan jika bisa saya mesti dapat beasiswa S2”
 “Siapa pun presidennya nanti mau pak Prabowo ataupun pak Jokowi saya mesti dapat beasiswa berprestasi saat kuliah”

(Sebelumnya saya minta maaf bila ada salah kata dalam penulisan dan pemaparannya, terima kasih telah mengunjungi blog saya) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar